Ombak

IMG_7674

Kita semua adalah ombak, di antara darat dan laut. ada kalanya kita datang dengan sangat keras, ada kalanya juga kita datang dengan sangat lembut menyisir pantai yang panjang. ada kalanya kita tinggi, ada kalanya juga kita sangat rendah. ada kalanya datang dengan gemuruh yang berisik, ada kalanya juga kita datang ditemani sunyi.

namun ombak selalu tahu dari mana dia berasal dan kemana dia kembali.

Merelakan yang rela

Semua tiba-tiba berbeda, tidak tahu ini berubah atau kembali seperti semula. Sudah terbiasa dengan hal yang tidak biasa membuat hal yang biasa menjadi janggal dirasa.

 

Semua indra sekarang tak lagi sama, tak lagi mendengar tawa yang sama, melihat senyum dari bibir yang sama, menyium harum yang sama, mengucapkan kalimat kepada orang yang sama dan merasakan sentuhan yang sama.

Ini yang paling saya takuti, kehilanganmu dan menyalahkan diri saya sendiri. Menyesal, namun bisa apa? Ibarat kita sudah sepakat bahwa ini satu-satunya cara. Seakan kita hidup di atas soal essay, tidak ada pilihan yang tersedia.

Terdapat banyak arah mata angin dan tidak ada yang melarang untuk memilih arah yang sama. Namun kenapa kita memilih sebaliknya?

Dan untuk itu saya masih mencari-cari jawabannya.

Analogi Kelilipan

sumber gambar

Saya yakin tidak ada satupun dari kita yang belum pernah merasakan kesedihan. Kesedihan bisa datang tidak terduga, pada pagi hari kamu dapat tertawa dengan lepas, tetapi pada malam hari kamu serasa ingin berada di kamarmu sendiri, menikmati sepi, dan membiarkan air matamu mengalir sampai pagi. Namun, ada juga yang kedatangannya dapat kamu prediksi dahulu, sebab pada dasarnya kesedihan itu bagaikan asap yang akan ada jika ada api yang membuatnya ada.

merasa sedih itu manusiawi, hal pertama yang kita lakukan setelah Continue reading “Analogi Kelilipan”